Penyebutan Kata “Mesir” di Dalam Al-Quran

Mesir adalah negeri yang banyak menyimpan khazanah. Negeri ini memiliki banyak gelar seperti negeri para Nabi, negeri para ulama, negeri seribu menara, “ibunda dunia” (umm ad-dunya), negeri piramida, dan sejumlah gelar lainnya.

Sampai saat ini Mesir menjadi destinasi menarik para peneliti dan turis dunia, selain menjadi tujuan para pencari ilmu agama (Islam). Bahkan Mesir dengan sejarah panjangnya diabadikan dalam Al-Qur’an. Berikut adalah beberapa kutipan ayat yang menyebutkan kata “Mesir” dalam Al-Qur’an:

  1. Yunus ayat 87

“Dan kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman” (Q. 10: 87).

Ayat ini memerintahkan kepada Musa dan saudaranya untuk menjadikan rumah-rumah mereka di Mesir sebagai tempat tinggal sekaligus tempat shalat menghadap kiblat. Menurut Mujahid (seperti dikutip Al-Qurthubi dan Al-Thabari), kata “Mesir” yang dimaksud dalam ayat ini adalah Iskandariah. Sedang menurut Al-Dhahhak yang dimaksud adalah negeri Mesir itu sendiri. Menurut Al-Qurthubi dalam tafsirnya “Jami’ li Ahkam al-Qur’an” menyatakan Mesir terletak antara laut dan kota Aswan, sedangkan Iskandariah merupakan bagian dari bumi Mesir. (Al-Qurthubi: j. VIII, t.t.: 279)

  1. Yusuf ayat 21

“Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak”. Dan demikian pula kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya” (Q. 12: 21).

loading...

Pada ayat sebelumnya (ayat 20) dijelaskan bahwa sekelompok musafir (sayyar) menemukan seorang Yusuf di sebuah sumur dan mereka hendak menjadikannya barang dagangan dengan menggadaikannya. Selanjutnya pada ayat berikutnya (ayat 21) –dimana tertera kata “Mesir”– dijelaskan bahwa orang yang akan membeli Yusuf tersebut berasal dari Mesir. Menurut penuturan para mufasir, orang yang hendak membeli Yusuf itu bernama Qifthir atau Ifthir, suami Zulaikha atau Zalikha.

  1. Yusuf ayat 99

“Maka tatkala mereka masuk (bertemu) Yusuf; Yusuf merangkul dua ibu bapanya dan dia berkata: “masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman” (Q. 12: 99).

Ayat ini merupakan lanjutan cerita mengenai keberangkatan keluarga Nabi Ya’qub menuju Mesir. Maka takkala Ya’qub bertemu dengan puteranya (Yusuf) lantas Yusuf pun memeluk orang tuanya itu dan berkata “masuklah ke Mesir insya Allah dalam keadaan aman”.

Frasa “masuklah kamu ke negeri Mesir insya Allah dalam keadaan aman” dijelaskan oleh Al-Thabari dalam dua konteks: Konteks pertama, adalah ketika Ya’qub bertemu Yusuf kemudian berpelukan (sebagai bentuk bakti dan penghormatan Yusuf kepada orang tuanya), dimana konteks kisah ini adalah sebelum memasuki Mesir. Setelah itu (baca: setelah berpelukan) Yusuf berkata kepada Ya’qub beserta orang-orang bersamanya “masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman”. Konteks kedua, adalah tatkala rombongan Ya’qub sampai di Mesir, Yusuf pun berbicara kepada atasannya (Raja). Lantas Yusuf berkata “masuklah kamu ke negeri Mesir insya Allah dalam keadaan aman”. (Al-Thabari: 16/265-266). Kata “udkhulu” (masuklah kamu) dalam ayat ini oleh Ibn Yusuf al-Andalusi dalam “at-Tafsir al-Kabir” atau “al-Bahr al-Muhith” ditafsirkan dengan “menetap dan tinggal di Mesir”. (5/348).

  1. Az-Zukhruf ayat 51

“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak melihat(nya)?” (Q. 43: 51).

Ayat ini mengisahkan mengenai kesombongan Fira’un yang mengklaim dirinya sebagai raja (pemilik) bumi Mesir. Kesombongan itu jelas terlihat dalam statemennya “bukankah kerajaan (bumi) Mesir ini kepunyaanku”. Sementara itu rivalnya –Musa dan pengikutnya– ia anggap sebagai orang yang lemah lagi fakir karena tidak memiliki atribut istana dan singgasana. Kesombongan Fir’aun juga terlihat dari klaimnya bahwa sungai-sungai yang mengalir berada dibawah kendalinya. Menurut Ibn Asyur dalam tafsirnya “at-Tahrir wa at-Tanwir”, sungai-sungai (al-anhar) yang dimaksud dalam ayat ini adalah sungai Nil yang memiliki banyak cabang aliran, diantaranya ke Dimyath dan Delta. (27/230-231)

Demikianlah beberapa kata “Mesir” dalam beberapa kutipan ayat-ayat Al-Qur’an dengan konteksnya masing-masing beserta penafsiran ulama tentangnya.

Sumber: https://www.dakwatuna.com/2016/11/09/83450/penyebutan-kata-mesir-al-quran/#ixzz4zdNJpNqU

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *